“Ku membiarkan hatiku untuk merindui-Mu, Ku menghamparkan sakitku untuk tatapan Kamu, Bersama-Mu harapanku, Hilang dalam terang yang membutakanku, Aku lemah tanpa Kamu, Ku ingin-Mu dampingi ku, Aku fahami aku bukan terbaik untuk diri-Mu, Aku menunggu cinta dari-Mu, Agar ku sempurna, Dan mungkin hari yang satu, Terus ku tertunggu, Hanya satu…”
by Yasmin Mogahed
There is a time of night when the whole world transforms. During the day, chaos often takes over our lives. The responsibilities of work, school, and family dominate much of our attention. Other than the time we take for the five daily prayers, it is hard to also take time out to reflect or even relax. Many of us live our lives at such a fast pace, we may not even realize what we’re missing.
But there is a time of night when work ends, traffic sleeps, and silence is the only sound. At that time—while the world around us sleeps—there is One who remains awake and waits for us to call on Him. We are told in the hadith qudsi:
“Our Lord descends during the last third of each night to the lower heaven, and says: ‘Is there anyone who calls on Me that I may respond to him? Is there anyone who asks Me that I may give unto him? Is there anyone who requests My Forgiveness that I may forgive him?’” (Bukhari and Muslim)
One can only imagine what would happen if a king were to come to our door, offering to give us anything we want. One would think that any sane person would at least set their alarm for such a meeting. If we were told that at exactly one hour before dawn a check for $10,000,000 would be left at our doorstep, would we not wake up to take it?
Allah subhanahu wa ta`ala (exalted is He) has told us that at this time of night, just before dawn, He will come to His servants. Imagine this. The Lord of the universe has offered us a sacred conversation with Him. That Lord waits for us to come speak with Him, and yet many of us leave Him waiting while we sleep in our beds. Allah (swt) comes to us and asks what we want from Him. The Creator of all things has told us that He will give us whatever we ask.
And yet we sleep.
There will come a day when this veil of deception will be lifted. The Qur’an says:
“[It will be said], You were certainly in unmindfulness of this, and We have removed from you your cover, so your sight, this Day, is sharp.” (Qur’an 50:22).
On that Day, we will see the true reality. On that Day, we will realize that two rak`at (units) of prayer were greater than everything in the heavens and the earth. We will realize the priceless check that was left on our doorstep every night as we slept. There will come a day when we would give up everything under the sky just to come back and pray those two rak`at.
There will come a day when we would give up everything we ever loved in this life, everything that preoccupied our hearts and minds, every mirage we ran after, just to have that conversation with Allah. But on that Day, there will be some from whom Allah (swt) will turn away… and forget, as they had once forgotten Him.
The Qur’an says:
“He will say, ‘My Lord, why have you raised me blind while I was [once] seeing?’ [Allah] will say, ‘Thus did Our signs come to you, and you forgot them; and thus will you this Day be forgotten.’” (Qur’an, 20:125-126) In Surat al-Mu’minoon, Allah says: “Do not cry out today. Indeed, by Us you will not be helped.” (Qur’an, 23:65)
Can you imagine for a moment what these ayat (verses) are saying? This is not about being forgotten by an old friend or classmate. This is about being forgotten by the Lord of the worlds. Not hellfire. Not boiling water. Not scalded skin. There is no punishment greater than this.
And as there is no punishment greater than this, there is no reward greater than what the Prophet ﷺ describes in the following hadith:
“When those deserving of Paradise would enter Paradise, the Blessed and the Exalted would ask: Do you wish Me to give you anything more? They would say: Hast Thou not brightened our faces? Hast Thou not made us enter Paradise and saved us from Fire? He would lift the veil, and of things given to them nothing would be dearer to them than the sight of their Lord, the Mighty and the Glorious.” [Sahih Muslim]
But one does not need to wait until that Day to know the result of this nighttime meeting with Allah (swt). The truth is, there are no words to describe the overwhelming peace in this life from such a conversation. One can only experience it to know. Its effect on one’s life is immeasurable. When you experience qiyam, the late night prayer the rest of your life transforms. Suddenly, the burdens that once crushed you become light. The problems that were irresolvable become solved.
And that closeness to your Creator, which was once unreachable, becomes your only lifeline.
« Hide it
Share This
7 Comments »
Oleh Ibnu Al-Maqdisi
Mukhtasar Minhajul Qasidin

KETAHUILAH bahawa cinta kepada Allah swt adalah tujuan utama daripada pelbagai macam kedudukan. Setelah mengenal cinta, maka muncul perasaan lain iaitu kerinduan, rasa senang dan redha. Sedangkan sebelum dia merasakan cinta itu tidak ada kedudukan lain melainkan perkara-perkara yang mengawali cinta seperti taubat, sabar, zuhud dan sebagainya.
Umat Islam sudah sepakat bahawa cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw merupakan kewajipan. Di antara dalil yang menjadi saksi tentang cinta ini adalah firman Allah swt :
“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (Al-Maidah : 54)
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah : 165)
Ini merupakan dalil yang menguatkan cinta kepada Allah swt dan timbal balik dalam cinta itu.
Dalam hadith sahih disebutkan bahawa ada seorang lelaki bertanya tentang hari kiamat kepada Rasulullah saw. Baginda kembali bertanya: ‘Apakah yang sudah kamu siapkan untuk menghadapinya?’ Orang itu menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak bersiap-siap untuk menghadapinya dengan banyaknya solat dan puasa, hanya aku mencintai Allah swt dan Rasul-Nya.’ Lalu Nabi saw bersabda: ‘Seseorang itu bersama orang yang dicintainya dan kamu bersama orang yang kamu cintai.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)
Tiada kesenangan yang dirasakan orang-orang muslim setelah mereka masuk Islam seperti kesenangan mereka mendengar sabda baginda ini.
Diriwayatkan bahawa malaikat pencabut nyawa mendatangi Al-Khalil Ibrahim a.s. untuk mencabut nyawa beliau. Lalu beliau bertanya kepada malaikat itu: ‘Adakah engkau melihat kekasih yang mencabut nyawa kekasihnya?’ Lalu Allah swt mewahyukan kepada beliau: ‘Adakah engkau melihat seorang kekasih yang tidak suka berjumpa dengan kekasihnya?’ Lalu Ibrahim a.s. berkata kepada malaikat pencabut nyawa: ‘Wahai Malaikat maut, cabutlah sekarang juga!’
Al-Hassan Al-Basri rahimahullah berkata: “Siapa yang mengetahui Rabb-nya maka dia akan mencintai-Nya dan siapa yang mencintai selain Allah swt bukan kerana kaitannya dengan Allah swt maka yang demikian itu disebabkan kebodohan dan keterbatasannya mengetahui Allah swt. Sedangkan cinta kepada Rasulullah saw tidak akan muncul melainkan daripada cinta kepada Allah swt, begitu pula cinta kepada ulama dan orang-orang yang bertakwa. Orang yang dicintai kekasih juga patut untuk dicintai. Rasul yang dicintai Allah swt juga patut dicintai. Semua ini kembali kepada cinta yang pertama. Pada hakikatnya tidak ada sesuatu yang patut dicintai di mata orang-orang yang memiliki mata hati kecuali Allah swt semata.”
Kejelasan tentang masalah cinta ini kembali kepada beberapa sebab, iaitu :
- Pertama : Manusia mencintai dirinya sendiri, keharmoniannya, hartanya, eksistensinya dan tidak menyukai perkara-perkara yang sebaliknya yang sifatnya merosak, meniadakan atau pun mengurangkan.
Ini merupakan tabiat setiap makhluk hidup dan susah digambarkan dapat berpisah darinya. Beerti hal ini menuntut adanya cinta kepada Allah swt. Jika manusia mengetahui Tuhan-nya tentu akan mengetahui secara pasti bahawa keberadaan dan kesempurnaannya berasal dari Allah swt, bahawa Allah-lah yang menciptakan sesuatu baginya dan menciptakan dirinya yang sebelumnya tidak ada. Seandainya bukan kerana kurnia Allah swt tentu dia tidak akan ada. Tadinya dia adalah kurang. Berkat kurnia Allah swt, dia pun menjadi sempurna. Oleh kerana itu Al-Hassan Al-Basri berkata: “Siapa yang mengetahui Tuhan-nya nescaya akan mencintai-Nya dan siapa yang mengetahui dunia nescaya akan menjauhinya.”
Bagaimana mungkin dapat digambarkan seseorang mencintai dirinya tetapi tidak mencintai Tuhan-nya yang menjadi sandaran dirinya?
- Kedua : Tabiat manusia mencintai orang yang berbuat baik, mengasihi, melindunginya, menghalau musuh-musuhnya dan membantunya meraih segala apa yang dicita-citakan.
Tentu saja dialah kekasih yang sesungguhnya. Jika manusia menyedari benar hal ini maka dia akan tahu bahawa yang paling banyak berbuat baik kepadanya adalah Allah swt semata. Kebaikan-Nya tiada terkira, sebagaimana firman-Nya :
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.” (An-Nahl : 18)
Kami telah menghuraikan masalah ini dalam fasal syukur. Tetapi perlu kami tegaskan sekali lagi bahawa kebaikan yang berasal daripada manusia hanya sekadar kiasan semata. Pada hakikatnya yang berbuat baik adalah Allah swt.
Gambaran secara jelas, ada seseorang yang menyerahkan seluruh simpanan dan miliknya kepadamu. Dia membenarkan kamu menggunakan semua itu untuk apa pun yang kamu kehendaki. Tentu kamu menyangka kebaikan itu berasal daripada orang tersebut. Ini jelas salah. Kebaikan orang itu ada berkat limpahan harta Allah swt, berkat kekuasaan Allah swt terhadap harta itu dan berkat dorongan Allah swt untuk memberikan seluruh hartanya. Siapa yang membuat orang itu mencintaimu, memilih dirimu dan membuatnya berfikir bahawa kebaikan agama dan dunianya adalah dengan cara berbuat baik kepadamu?
Seandainya tidak ada semua ini tentu orang itu tidak akan menyerahkan hartanya kepadamu. Seakan-akan dia dipaksa untuk menyerahkan hartanya kepadamu dan dia tidak dapat menolak. Jadi yang berbuat baik adalah yang telah memaksa orang itu untuk menyerahkan seluruh miliknya kepadamu. Dia tidak ubahnya pemegang kunci gudang raja yang diperintahkan memberikan sesuatu kepada seseorang. Pemegang kunci itu tentu tidak akan dilihat sebagai orang yang berbuat baik.
Ini kerana dia hanya sekadar ditugaskan atau dipaksa taat kepada raja. Andaikata raja membiarkannya, tentu dia tidak dapat berbuat apa-apa. Begitu pula setiap orang yang berbuat baik. Seandainya Allah swt membiarkan dirinya, tentu dia tidak akan mengeluarkan sesuatu apa pun sehingga Allah swt mendorongnya untuk mengeluarkan sesuatu. Oleh itu, orang yang memiliki makrifat tidak boleh mencintai sesuatu kecuali Allah swt semata. Kebaikan mustahil datang daripada selain Allah swt.
- Ketiga : Menurut tabiat manusia, orang yang pada dasarnya baik dapat saja menjadi orang yang dicintai, meskipun kebaikannya tidak sampai kepada dirimu.
Jika kamu mendengar khabar bahawa ada seorang raja di suatu negeri yang jauh dikenali sebagai raja yang adil, ahli ibadah, menyayangi manusia dan lemah-lembut kepada mereka, tentu kamu akan mencintainya dan kamu akan condong kepadanya. Yang demikian ini pun menuntut cinta kepada Allah swt. Bahkan menuntut untuk tidak mencintai selain Allah swt kecuali jika dikaitkan dengan suatu sebab. Allah-lah yang berbuat baik kepada segala sesuatu secara keseluruhan dengan cara menciptakan dan menyempurnakan semuanya, daripada yang kecil sehingga yang besar, berupa nikmat yang tidak terbilang jumlahnya, sebagaimana firman-Nya:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.” (An-Nahl : 18)
Lalu bagaimana mungkin selain Allah swt disebut orang yang berbuat baik, padahal kebaikan orang yang berbuat baik itu berasal daripada sekian banyak kebaikan kekuasaan-Nya? Barangsiapa yang memikirkan hal ini tidak akan mencintai kecuali Allah swt semata. Dapat pula kami katakan, setiap orang yang memiliki ilmu atau kekuasaan atau terhindar sifat-sifat yang tercela patut dicintai. Sifat para siddiqin yang dicintai manusia kembali kepada pengetahuan mereka tentang Allah swt, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, syariat-syariat nabi-Nya, kemampuan mereka membenahi diri mereka dan usaha mereka menjauhi segala kehinaan dan keburukan. Sifat-sifat seperti ini pula para nabi dicintai. Jika sifat-sifat ini dinisbatkan kepada sifat-sifat Allah swt maka ia terlalu kecil.
Adapun tentang ilmu, maka ilmu orang-orang yang terdahulu dan ilmu orang-orang yang belakang semuanya berasal daripada ilmu Allah swt yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi meski seberat atom yang lepas daripada ilmu Allah swt. Kemudian Allah swt berseru kepada semua makhluk:
“Dan tiadalah ilmu yang diberikan kepada kamu melainkan hanya sedikit.” (Al-Isra’ : 85)
Seandainya seluruh penghuni langit dan bumi berhimpun untuk menyamai ilmu dan hikmah Allah swt di dalam merinci penciptaan seekor semut atau nyamuk, tentu mereka tidak akan sanggup melakukannya dan sekali-kali tidak dapat mencapai seperti ilmu-Nya. Ini kerana sedikit kekuasaan yang dimiliki manusia tentang suatu ilmu yang diturunkan Allah swt. Kelebihan ilmu Allah swt ke atas ilmu seluruh makhluk sudah terkeluar dari batasan. Ilmu Allah swt tiada batas akhirnya.
Kekuasaan juga merupakan sifat kesempurnaan. Jika kekuasaan seluruh makhluk dinisbatkan kepada kekuasaan Allah swt, maka kamu mendapati orang yang paling perkasa, paling luas wilayah kekuasaannya, paling hebat kekuatannya, paling mampu mengatur dirinya sendiri dan orang lain, kekuasaannya tercermin di dalam sifat-sifat dirinya dan kemampuannya melalu segala rintangan, tetap saja tidak mampu mengatur mudharat dan manfaat bagi dirinya sendiri, tidak mampu mengatur mati, hidup dan tempat kembalinya, bahkan tidak sanggup menjaga matanya daripada kebutaan. Tidak mampu menjaga lidahnya daripada kekeluan, tidak mampu menjaga telinganya daripada ketulian, tidak mampu menjaga badannya daripada penyakit, lebih-lebih lagi menjaga satu biji atom yang ada dalam tubuh makhluk.
Dia tidak memiliki kekuasaan mengatur dirinya sendiri dan orang lain. Jadi kekuasaan itu tidak berasal daripada dirinya sendiri, tetapi Allah-lah yang menciptakan dirinya dan menciptakan kekuasaannya serta menciptakan sebab-sebab yang melatarbelakangi semuanya itu. Seandainya Allah swt menjadikan seekor nyamuk berkuasa, tentu ia sanggup mematikan raja yang paling berkuasa dan paling kuat. Seorang hamba tidak memiliki kekuasaan apa pun kecuali daripada tuannya.
Allah swt telah berfirman tentang hak penguasa bumi yang paling agung, iaitu Zulqarnain:
“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” (Al-Kahfi : 84)
Semua kerajaan dan kekuasaan tidak mungkin terjadi kecuali kerana anugerah Allah swt. Ubun-ubun seluruh makhluk ada di tangan Allah swt dan kekuasaan-Nya. Jika Allah swt membinasakan mereka semua, tidak ada sedikit pun daripada kerajaan dan kekuasaan-Nya yang berkurangan. Seandainya Allah swt menciptakan seribu kali lebih banyak daripada jumlah makhluk yang ada, maka itu tidak akam memberatkan-Nya. Tiada ada yang berkuasa kecuali Dia.
Milik-Nya segala kesempurnaan, keagungan, kebesaran dan kekuasaan. Jika digambarkan bahawa kamu mencintai seseorang yang berkuasa kerana kesempurnaan kekuasaan, keagungan dan ilmunya, tentu yang lain tidak patut mendapatkan cinta itu. Sementara tidak dapat digambarkan bahawa kesempurnaan kesucian melainkan hanya milik Allah swt semata-mata.
Dialah satu-satunya penguasa, yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada yang menyamai-Nya. Dialah tempat bergantung yang tidak pernah goyah, Yang Maha Kaya dan tidak mempunyai keperluan, Yang Berkuasa dan mampu berbuat menurut kehendak-Nya, menetapkan hukum seperti yang diinginkan-Nya, tidak adak yang dapat menolak hukum-Nya, tidak ada yang dapat merintangi qadha’-Nya, yang Maha Mengetahui dan tidak ada sesuatu sekecil apa pun di langit dan di bumi yang lepas daripada pengetahuan-Nya.
Kesempurnaan pengetahuan orang-orang yang memiliki pengetahuan adalah mengakui kelemahan pengetahuannya. Allah-lah yang selayaknya mendapatkan cinta sejati.
« Hide it
Share This
3 Comments »
Syaikh Ibnu ‘Athaillah mengatakan :
“Janganlah pohonkan niat dan kepentinganmu kepada selain Allah. Sedangkan Allah Dzat Yang Maha Mulia tidak dapat dicapai hanya dengan angan-angan.”
Tidak kurang daripada 17 kali sehari dan semalam kita membaca surah al-Fatihah, yang salah satu ayatnya berbunyi :
Terjemahan : “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami mohon pertolongan.” (Surah al-Fatihah : 5)
Firman Allah di atas tentulah tidak ada maknanya kalau hanya sekadar dibaca dan dihafal sahaja, tetapi ia hendaklah kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian amatlah tidak sesuai dengan apa yang kita ucapkan, apabila dalam menghadapi suatu keadaan dan keperluan, kita meminta pertolongan kepada selain daripada Allah Ta’ala
Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah, tidak pernah berkurangan dan tidak pula akan murka kepada hamba-Nya yang suka meminta kepada-Nya. Malahan Allah mencurahkan segala kasih dan sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang suka bermohon kepada-Nya.
Salah seorang penyair mengungkapkan sebagai berikut :
“Janganlah engkau memohonkan hajatmu kepada Bani Adam, tetapi bermohonlah kepada Allah yang pintu-Nya tidak pernah tertutup. Allah amat murka jika engkau meninggalkan permohonan kepada-Nya, sedangkan Bani Adam akan marah jika engkau sering meminta kepadanya.”
Share This
5 Comments »
by Yasmin Mogahed

There’s a strange sadness today. It’s not the kind that leaves you empty or lonely, or even wanting. It’s the still kind. The kind that comes from a certain level of understanding, even acceptance.
I looked at this photo today, and every time I did, I found tears fill my eyes. It was a sunset on the beach. Stunning. And above it the ayah: Rabanna ma khalaqta hatha batilan subhanak (our Lord You have not created all of this for nothing, subhanak.)
And that’s just it. All of this. The sadness, the accidents, the smiles, the peace, the pain, the love, the loss, and the sacrifice: it’s not for nothing. It is not without purpose. It’s not a mistake, some sort of oversight or a random course of events.
I looked at the image and suddenly I was filled with such a deep sense of nostalgia. For a time, I have no memory of.
“And [mention] when your Lord took from the children of Adam – from their loins – their descendants and made them testify of themselves, [saying to them], “Am I not your Lord?” They said, “Yes, we have testified.” [This] – lest you should say on the day of Resurrection, “Indeed, we were of this unaware.”” (Qur’an, 7:172)
I was overcome with the feeling of missing someone. Missing Him. Missing being with Him. Missing a time that was or will be. A time so certain, it is as if it already happened. That’s why when Allah talks about the hereafter in the Quran, He uses the past tense.
When you fall in love with a work of art, you’d die to meet the artist. I am a student of the galleries of Pacific sunsets, full moon rises on the ocean, the clouds from an airplane, autumn forests in Raleigh, first fallen snows.
And I’m dying to meet the artist.
“Some faces, that Day, will be radiant, looking at their Lord.” (Qur’an, 75:22-23)
Share This
No Comments »
“Love is a serious mental disease.” At least that’s how Plato put it. And while anyone who’s ever been ‘in love’ might see some truth to this statement, there is a critical mistake made here. Love is not a mental disease. Desire is.
If being ‘in love’ means our lives are in pieces and we are completely broken, miserable, utterly consumed, hardly able to function, and willing to sacrifice everything, chances are it’s not love. Despite what we are taught in popular culture, true love is not supposed to make us like drug addicts.
And so, contrary to what we’ve grown up watching in movies, that type of all-consuming obsession is not love. It goes by a different name. It is hawa—the word used in the Quran to refer to one’s lower, vain desires and lusts. Allah describes the people who blindly follow these desires as those who are most astray:
“But if they answer you not, then know that they only follow their own lusts (hawa). And who is more astray than the one who follows his own lusts, without guidance from Allah?” (28: 50)
By choosing to submit to our hawa over the guidance of Allah, we are choosing to worship those desires. When our love for what we crave is stronger than our love for Allah, we have taken that which we crave as a lord. Allah says:
“Yet there are men who take (for worship) others besides Allah, as equal (with Allah): They love them as they should love Allah. But those of Faith are overflowing in their love for Allah.” (2:165)
If our ‘love’ for something makes us willing to give up our family, our dignity, our self-respect, our bodies, our sanity, our peace of mind, our deen, and even our Lord who created us from nothing, know that we are not ‘in love’. We are slaves.
Of such a person Allah says:
“Do you see such a one as takes his own vain desires (hawa) as his lord? Allah has, knowing (him as such), left him astray, and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight. (45: 23)
Imagine the severity. To have one’s sight, hearing and heart all sealed. Hawa is not pleasure. It is a prison. It is a slavery of the mind, body and soul. It is an addiction and a worship. Beautiful examples of this reality can be found throughout literature. In Charles Dickens’ Great Expectations, Pip exemplifies this point. In describing his obsession with Estella, he says: “I knew to my sorrow, often and often, if not always, that I loved her against reason, against promise, against peace, against hope, against happiness, against all discouragement that could be.”
Dickens’ Miss Havisham describes this further: “I’ll tell you…what real love is. It is blind devotion, unquestioning self-humiliation, utter submission, trust and belief against yourself and against the whole world, giving up your whole heart and soul to the smiter – as I did!”
What Miss Havisham describes here is in fact real. But it is not real love. It is hawa. Real love, as Allah intended it, is not a sickness or an addiction. It is affection and mercy. Allah says in His book:
“And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquility in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought.” (30: 21)
Real love brings about calm—not inner torment. True love allows you to be at peace with yourself and with God. That is why Allah says: “that you may dwell in tranquility.” Hawa is the opposite. Hawa will make you miserable. And just like a drug, you will crave it always, but never be satisfied. You will chase it to your own detriment, but never reach it. And though you submit your whole self to it, it will never bring you happiness.
So while ultimate happiness is everyone’s goal, it is often difficult to see past the illusions and discern love from hawa. One fail-safe way, is to ask yourself this question: Does getting closer to this person that I ‘love’ bring me closer to—or farther from—Allah? In a sense, has this person replaced Allah in my heart?
True or pure love should never contradict or compete with one’s love for Allah. It should strengthen it. That is why true love is only possible within the boundaries of what Allah has made permissible. Outside of that, it is nothing more than hawa, to which we either submit or reject. We are either slaves to Allah, or slaves to our hawa. It cannot be both.
Only by struggling against false pleasure, can we attain true pleasure. They are by definition mutually exclusive. For that reason, the struggle against our desires is a prerequisite for the attainment of paradise. Allah says:
“But as for he who feared the position of his Lord and prevented the soul from [unlawful] inclination, then indeed, Paradise will be [his] refuge.” (Qur’an, 79: 40-41)
Republished from InFocus News.
« Hide it
Share This
4 Comments »
|