Oleh Imam Ghazali (Ihya’ Ulumuddin)Â
ADAPUN rasa syukur, keutamaannya ialah bahawa Allah
mengaitkannya dengan zikir, sedangkan Allah
SWT berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya zikrullah (mengingat Allah
) itu lebih besar.” (Al-Ankabut: 45)
Allah
SWT berfirman yang bermaksud: “Kerana itu, ingatlah kamu kepada-Ku, nescaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)
Allah
SWT berfirman yang bermaksud: “Dan Allah
akan membalas orang-orang yang bersyukur.” (Ali-Imran: 144)
Allah
SWT berfirman yang bermaksud: “Sedikit saja dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba’: 13)
Di antara nasihat adalah sabda Nabi SAW: “Orang yang makan dan bersyukur sama darjatnya dengan orang puasa yang sabar.”
Rasa syukur itu dinyatakan dengan mengetahui bahawa tiada pemberi kenikmatan selain Allah
. Kemudian apabila engkau ketahui secara terperinci nikmat Allah
atas dirimu pada anggota-anggota badanmu, tubuh dan jiwamu serta segala yang engkau perlukan dari urusan-urusan penghidupanmu, timbullah di hatimu kegembiraan terhadap Allah
dan nikmat-Nya serta kurnia-Nya atas dirimu.
Adapun dengan hati, rasa syukur itu dinyatakan dengan menyembunyikan kebaikan bagi seluruh manusia dan menghadirkan selalu dalam mengingat Allah
SWT sehingga tidak melupakannya. Adapun dengan lisan, engkau nyatakan dengan banyak mengucap tahmid.
Dengan anggota tubuh dinyatakan dengan menggunakan nikmat-nikmat Allah
SWT dalam mentaati-Nya dan menghindari penggunaan nikmat-Nya untuk menderhakai-Nya. Syukur mata dinyatakan dengan menutupi setiap keburukan yang engkau lihat dari seorang muslim dan tidak menggunakannya untuk melihat maksiat. Syukur kedua telinga dinyatakan dengan menutupi keburukan yang didengar dan mendengarkan apa-apa yang dibolehkan saja.
Nabi SAW bersabda kepada seorang lelaki: “Bagaimana keadaanmu di waktu pagi ini?”
Orang itu menjawab: “Baik.”
Nabi SAW mengulangi pertanyaan itu dan orang tersebut mengulangi jawapannya hingga pada ketiga kalinya ia menjawab: “Keadaanku baik dan aku memuji rasa syukur kepada Allah
SWT.”
Nabi SAW bersabda: “Inilah yang aku inginkan darimu.”
Setiap orang jika ditanya tentang sesuatu, maka ia antara bersyukur atau mengeluh. Bila ia bersyukur, maka ia pun telah mentaati Allah
. Dan apabila mengeluh, maka ia pun derhaka.
Jika ada yang bertanya: “Apa maknanya syukur, sedangkan syukur adalah nikmat sempurna dari Allah
SWT?”
Maka kami jawab: “Pertanyaan ini telah terlintas di hati Dawud dan Musa AS.”
Maka Musa AS berkata: “Bagaimana aku mensyukuri-Mu sedangkan aku tidak dapat mensyukuri-Mu kecuali dengan nikmat yang berasal dari nikmat-Mu?”
Kemudian Allah
SWT mewahyukan kepadanya: “Apabila engkau mengetahui ini, maka engkau pun telah mensyukuri Aku.”
Dalam cerita lain: “Apabila engkau tahu bahawa nikmat-nikamt itu berasal dari-Ku, maka Aku rela hal itu sebagai pernyataan syukur darimu.”
Ini adalah cabang dari satu bab tauhid, iaitu bahawa Dialah yang mensyukuri dan disyukuri, yang mencintai dan yang dicintai. Tiada sekutu bagi Allah
. Segala sesuatu akan binasa kecuali diri-Nya, dan ini adalah kebenaran yang azali dan abadi, kerana tiada sesuatu pun melainkan Allah
yang mewujudkannya. Dia berdiri sendiri. Segala sesuatu selain dia didirikan oleh-Nya maka Dialah yang Berdiri Sendiri dan Hidup Kekal.
Ketika membaca ayat: “Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya.” (Shaad: 44)
Habib bin Habib berkata: “Alangkah menghairankannya, Allah
memberi dan memuji, sebagai isyarat bahawa apabila Allah
memuji pemberiannya, maka Dia memuji diri-Nya. Maka Allah
yang memuji dan Dialah yang dipuji.”
Dari sinilah, As-Syeikh Abu Said Al-Maihani memandang ketika dibacakan di hadapannya. “Dia mencintai mereka dan mereka mencintainya,” maka ia berkata: “Demi umurku, sungguh Dia mencintai mereka dan biarkan Dia mencintai mereka bagi diri-Nya.”
Dialah yang mencintai dan Dialah yang dicintai. Ini adalah tingkat yang tinggi dan tidak sampai kepada pemahamanmu kecuali dengan sebuah contoh menurut kadar akalmu. Telah jelas bagimu bahawa apabila pengarang mencintai karangannya, maka ia pun telah mencintai dirinya. Apabila pembuat sesuatu mencintai buatannya, maka ia pun telah mencintai dirinya.
Apabila seorang ayah mencintai anaknya kerana ia anaknya, maka ia pun telah mencintai dirinya. Segala sesuatu di dalam wujud selain Allah
SWT adalah karangan dan buatan. Jika Allah
mencintainya, maka sesungguhnya Allah
mencintai diri-Nya. Ini adalah pandangan dari sisi tauhid.
Itulah yang diisyaratkan dengan perkataan Sufi. “Ia lenyap dari dirinya dan orang lain sehingga tidak melihat selain dari Allah
.” Orang-orang tidak memahami hal ini sehingga mereka mempersalahkan para Sufi.
Mereka berkata: “Bagaimana ia lenyap, panjang bayangannya tetap sepeti dulu dan setiap malam dan siang memakan berbagai macam makanan. Orang-orang mentertawakan mereka kerana kebodohan mereka, padahal syarat bagi orang-orang yang arif adalah menjadi tawaan orang-orang yang bodoh.”
Allah
SWT berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang mentertawakan orang-orang yang beriman.” (Al-Muthaffifin: 29)
Hingga firman Allah
yang bermaksud: “Maka pada hari ini orang-orang yang beriman mentertawakan orang-orang kafir.” (Al-Muthaffifin: 34)
Maka, rasa syukur adalah penggunaan nikmat di jalan yang diciptakan baginya. Contohnya, seorang raja mengirim kepada seorang hambanya seekor kuda dengan segala keperluannya untuk dikenderai. Jika ia menaiki dan menggunakannya di jalan yang telah ditetapkan baginya, maka ia pun menggunakan nikmat itu dengan semestinya. Jika ia menaikinya dan menjauh dari raja, maka itu adalah kebodohan dan mengingkari nikmat.
Wallahu a’lam.

1 response so far ↓
// Jan 26, 2007 at 3:29 pm
alhamdulillah kerana telah melakukan semua ini…
harap ape yang dilakukan ini diteruskan dan ditingkatkan lagi…
Leave a Comment